Abuya Prof, demikian ia akrab disapa oleh masyarakat aceh, beliau adalah putra Syaikhuna Abuya Muhammad Waly al-Khalidi, seorang ulama besar aceh dan juga merupakan guru besar Tarekat Naqsyabandiyah di Tanah Rencong. Ayah Abuya Muhib, yaitu Syekh Muhammad Waly adalah ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Dari ayahandanya, yang di Ranah Minang lebih dikenal dengan julukan Syekh Mudo Waly, mengalir darah ulama besar. Paman Syekh Mudo Waly, misalnya, adalah Datuk Pelumat, seorang waliyullah yang termasyhur di Minangkabau.
Sebagaimana kedudukan pamannya, Syekh Mudo Waly adalah sahabat Syekh Yasin Al-Fadany (asal Padang) saat mereka berguru kepada Sayyid Alwi Al-Maliky, kakek Sayyid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky Al-Maliky Al-Hasany, di Mekah. Karena persahabatan itu pula, beberapa tahun lalu Al-Maliky mengijazahkan seluruh tarekat yang dimilikinya kepada Abuya.
Abuya Doktor Muhibbudin Waly Lahir di Padang Sumatera Barat tanggal 17 Desember tahun 1936 dari Keluarga ulama dan panutan masyarakat. Ayahnya bernama Syekh Haji Muda Waly dan Ibunya Hajjah Rasimah masih keturunan Syekh Khatib Ali Padang. Belau di besarkan di Aceh.
Pendidikan Intelektual
emenjak kecil sebelum baligh, Abuya Muhibbudin telah belajar dan mendalami ilmu keislaman dari ayahnya langsung yang juga seorang ulama terpandang, dengan teman seperguruannya; Abu Tanoh Mirah, Abon Azis Samalanga, Abu Keumala, dll.
Setelah menjadi alim, pengembaraan intelektualnya dilanjutkan ke Timur Tengah, tepatnya di Al Azhar Mesir pada rentang waktu 1964-1970. Abuya bermukim di sana dan belajar dari para ulama besar Mesir di antaranya Syekh Muhammad Abu Zahrah pengarang banyak buku dan Syekh Ali Sayis Ayat Ahkam dan ulama lainnya, di Mesir Abuya sangat hobi berziarah ke Makam Imam Syafi’i. Suatu hal yang tidak lazim dalam masa 6 tahun beliau telah menyelesaikan Doktoralnya dari s1 sampai s3 dengan persamaan ijazah, dalam bidang Ushul Fiqih dengan disertasi yang membahas tentang ijtihad, yang kemudian meringkasnya menjadi pidato pengukuhan gelar Profesornya di Institut Ilmu Al Qur’an Jakarta pada Tahun 1988, dikukuhkan oleh Legenda fatwa Indonesia Prof. KH. Ibrahim Hosein, LML (Ayahnya Ust Prof Nadirsah Hosein/dosen Monash Australia).
Memperoleh gelar doktor tahun 70-an maknanya tahun 1963 Syekh Wahbah Zuhaili menyelesaikan s3nya dan tahun 1965 Syekh Ramadhan al Buthi. Pada era tersebut belum banyak doktor lulusan Al Azhar, sedangkan ulama Betawi dengan karya magnum opusnya tentang Mazhab Syafi’i Doktor Kiyai Nahrawi Abdussalam di sidang tahun 1974. Umumnya lulusan Al Azhar mulai banyak dari tahun 80 an seperti al Habib Prof Quraish Shihab, Prof Muslim Ibrahim, Prof Khuzaimah dll.
Periode lengkap pendidikan Abuya Muhibuddin Waly adalah : 1944 – 1953 SD s/d SLA di Darussalam Labuhan Haji Tapaktuan, Aceh Selatan 1954 – 1959 Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan 1964 Persamaan Ijazah Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan dengan Magister Syari’at Islam, Spesialisasi Ushul Fiqh Al-Islami (The Roots Theoretical Bases of Islamic Law Section), al-Azhar University, Faculty of Islamic Statute & Law, Cairo, Egypt. 1970 Dokter (Ph.D) Syariah Islam, Bidang Ushul Fiqh Al-Islami (Spesialisasi The Roots-The Orical-of Islamic Law Section), Al-Azhar University. 1978-1979 Lemhanas (Lembaga Pertahanan Indonesia) KRA XI, Jakarta. 1979 Penataran Pemuka Agama seluruh Indonesia Angkatan ke-II, Jakarta. 1980 Penataran Calon Penatar P4 (Manggala P4 Nasional ) Istana Bogor. 1984 Penataran Kewaspadaan Nasional (Khusus Manggala P4 Nasional), Jakarta.
Kegiatan Akademik : 1963-1964 Dosen (status Guru Besar) Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Perguruan Tinggi Islam Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan. 1970-1976 Dosen IAIN Fakultas Syariah Syarif Hidayatullah, Jakarta. 1971-1974 Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Jakarta 1988-1993 Professor Ilmu Hukum Islam, Institut al-Quran (IIQ) Jakarta.[2]
Aktivitas dan pengalaman Kerja
Abuya Muhibbuddin memiliki Pengalaman Kerja diantaranya : 1963-1964 Direktur Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan. 1973-1975 Wakil Dekan Bidang Akademis, Fakultas Syari’ah IAIN Syarif HidayatulLah, Jakarta. 1979-1982 Pimpinan Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) Indonesia, Jakarta 1982-1993 Ketua Umum Rabithahatul Ulamail Muslimin al-Sunniyyin (Ikatan Ulama Islam Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah) Indonesia, Jakarta. 1983-1988 Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (DPA- RI) 1992 Pensyarah, Universiti Islam Antarabangsa, Kuala Lumpur, Malaysia.
Karya Ilmiah : Al-Ijtihad fi al-Fiqh al-Islami (Ijtihad dalam Hukum Islam), tahun 1970. Thesis Ph.D. dari Fakultas Syari’ah dan Qanun, Universitas al-Azhar. Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf (4 jilid), 1972-83. Ulama Menurut Islam (Mahiyat al-Ulama fi al-Islam – Naskah Seminar PB N. U. 1976). Asuransi dalam Pandangan Syari’at Islam (Al-Ta’min fi al-Syari’ati al-Islamiyah-Naskah Seminar PB N. U. 1975). Tarawih dan Witir serta Ibadat-ibadat yang Berkaitan dengannya menurut Sunnah Rasul Dan Sunnah Sahabat, dan Pengalaman Para Ulama Islam Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah (1985) Dari Manakah Datangnya Istilah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah (1985), Perlunya akidah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah di kembangkan dan dipertahankan, Undangan seminar dan lain-lain seperti ke Malaysia (Seminar Guru-guru Asean) tahun 1977, Ke Brunei Darussalam (Seminar Dakwah Islamiah) tahun 1985 , Hakikat Tauhid dan Tasawuf( 2 jild) dan lain-lain
Setelah kembali ke Jakarta, Dr Muhibbudin Waly mengajar di beberapa lembaga baik formal maupun nonformal. Beliau juga menyampaikan ceramah ceramah tasawufnya di Masjid Istiqlal, yang kemudian isi pengajian itu dibukukan dan dicetak sebagai syarah/penjelasan lengkap untuk Kitab Hikam Syekh Athaillah Sakandary. Menurut Kyai Masykur(Menteri Agama) keberadaan buku Kiyai Muhibbudin terasa sangat penting, karena belum ada ulama yang mensyarah Hikam secara panjang lebar dalam bahasa Indonesia dan Melayu. Sehingga tidak mengherankan bila forum ulama melayu Asia Tenggara sangat mengapresiasi karya tersebut.
Penerus Tarekat Naqsyabandiyah
Abuya Muhibbuddin belajar Tarekat Naqsyabandiyah kepada ayahandanya. Setelah dianggap cukup, belakangan, Syekh Mudo Waly menyerahkan pengangkatan anaknya menjadi mursyid kepada gurunya, Syekh Abdul Ghani Al-Kampary (dari Kampar). Saat itu di pesisir laut Sumatra ada dua mursyid besar yang tinggal di Riau. Mereka termasyhur sebagai min jumlatil aulia (termasuk wali-wali Allah), yaitu Syekh Abdul Ghani Al-Kampary, yang kebanyakan murid-muridnya terdiri dari para ulama; dan Syekh Abdul Wahab Rokan (dari Rokan), yang murid-muridnya adalah orang-orang awam. Belakangan Abuya Muhibbuddin juga mendapat ijazah irsyad (sebagai guru mursyid) Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dari ulama kharismatik K.H. Shohibul Wafa’ Tajul ‘Arifin, alias Abah Anom, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya; dan Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari Syekh Muhammad Nadzim Al-Haqqany. Silaturahmi dan selalu belajar kepada para ulama besar memang kebiasaannya yang sudah mendarah daging, bahkan hingga kini. Selalu teringat wasiat ayahandanya, “Jika engkau bertemu dengan orang alim, janganlah pernah mendebat. Cukup dengarkan nasihatnya, bertanya seperlunya, minta doa dan ijazahnya, lalu cium tangannya, jika engkau bertemu dengan seorang ulama yang sombong dan banyak bicara debatlah dia.”
Selain sebagai akademisi kampus, Abuya Muhibbudin merupakan tokoh kunci Naqsyabandiyah Aceh dari trah Naqsyabandiyah al Waliyah. Walaupun beliau memiliki latar belakang pesantren yang begitu kental dan bertarekat, namun pemikiran pemikiran hukumnya sangat maju, seperti pandangannya tentang asuransi, bunga bank, dan menganggap Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim penerus mazhab Hambali
Dalam beberapa tulisannya Abuya Muhibbudin selalu mengingat betapa Syekh Muda Waly memiliki pengaruh yang besar dalam dirinya, dan dianggap sebagai guru utamanya. Selain memiliki ijazah dari ayahnya Syekh Muda Waly, ia juga pernah mengambil ijazah dari beberapa ulama besar lainnya. Di antaranya; Syekh Yasin Padang dalam sanad hadits, Syekh Muhammad Alawi Maliki dalam sanad keilmuan, Syekh Ahmad Shohibul Wafa’ atau dikenal Abah Anom dalam Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, Syekh Hisyam Kabbani dalam Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah. Adapun dalam jalur Tarekat Naqsyabandiyah al Waliyah dari jalur ayahnya, beliau adalah Sayyidul Mursyidin.
Abuya Muhibbudin banyak menghabiskan waktunya dalam pengembaraan keilmuan mulai dari Aceh, Mesir, Jakarta, Malaysia. Pada usia sepuhnya, beliau kembali ke Aceh dan kembali mendidik banyak santri termasuk di Dayah Darussalam Labuhan Haji. Dan secara aktif menjadi pemateri di kajian tinggi keislaman termasuk di Masjid Raya Baiturrahman.
Abuya wafat
Abuya Muhibuddin Waly, MA” tutup usia lebih kurang 76 tahun (1936-2012) di Rumah Sakit Fakinah Banda Aceh pada tanggal 07 Maret 2012 pukul 21.20 Wib. Beliau, mempunyai dua istri dan tujuh orang Putra ( Taufiq, Hidayat, Wahyu, Rahmat, Amal, Habibie dan Maulana )
Referensi
- Dr. Tgk. M. Zukhdi Karimuddin, Pengantar Studi Fiqh Mazhab Syafi’i, 2021: Bandar Publishing, Banda Aceh
- Muhibbudin Wali, Pengembangan Ahlussunnah waljamaah dan mempertahankannya, (KUD- Rahmat,1985)









































































